Ikhtisar: Hari kedua PAIR Digital Summit 2020

Memaksimalkan manfaat jalur kereta api baru Sulawesi Selatan.

 

Hari ke-2 agenda tahunan PAIR Summit difokuskan pada jalur kereta api baru yang sedang dibangun di Sulawesi, tahap pertama akan menghubungkan Sulawesi Selatan dari Makassar ke Parepare.

Jalur kereta api berpotensi mengubah perekonomian dan peluang bagi masyarakat di provinsi tersebut. Para peneliti PAIR bekerja untuk memberikan saran tentang bagaimana memastikan angkutan barang dan penumpang berjalan dengan lancar dan sistem transportasi terintegrasi penuh dan efektif.

Pembukaan PAIR Summit hari kedua

Menteri Perhubungan Indonesia Budi Karya Sumadi membuka Hari 2. Ia menyatakan apresiasinya kepada PAIR karena telah menyoroti konektivitas di Sulawesi Selatan, dengan mencatat bahwa proyek kereta api adalah proyek prioritas Pemerintah Indonesia.

“Pembangunan jalur KA Makassar-Parepare akan membawa perubahan positif, terutama dalam memajukan perekonomian masyarakat,” kata Menteri Budi.

Forum Kebijakan

Pada Forum Kebijakan, PAIR menyambut para panelis termasuk Profesor Wihana Kirana Jaya, Staf Khusus Menteri Perekonomian dan Transportasi; Prakosa Hadi Takariyanto, Direktur Teknis dan Pelindo IV; Dr Hendra Pachri dari Tim Gubernur untuk Percepatan Pembangunan; dan Dr Arafah, Kepala Dinas Perhubungan Sulawesi Selatan. Koordinator Riset PAIR Dr Hasnawati Saleh menjadi moderator dalam sesi tersebut.

Dalam panel tersebut, Prof Wihana menjelaskan dampak jalur kereta api di provinsi tersebut.

“Kami akan terhubung tidak seperti sebelumnya,”ujarnya. “Bisnis akan memiliki akses, korporasi akan memiliki akses, komunitas akan memiliki akses sebagai penumpang… Kami juga memiliki peluang ekonomi untuk memaksimalkan rantai nilai.”

Prof Wihana optimis bahwa peningkatan konektivitas dan pergerakan barang dapat mendukung pemulihan ekonomi provinsi dari COVID-19. Ia juga membahas pentingnya jalur kereta api yang dapat diakses oleh berbagai kelompok masyarakat, termasuk penyandang disabilitas.

Dr Hendra setuju, dan membahas pentingnya pendidikan masyarakat untuk mendorong penduduk setempat menggunakan kereta. Ia juga menyebutkan potensi lapangan kerja yang akan muncul, tidak hanya dari jalur kereta itu sendiri, tetapi juga dari tambahan investasi yang akan dikeluarkan di sekitarnya.

Prakosa Hadi Takariyanto dari Pelindo IV yang merupakan Direktur Teknik PT Pelindo IV membahas perkembangan dan perluasan pelabuhan Sulawesi Selatan. Pembangunan infrastruktur ini melengkapi pembangunan jalur kereta api dalam menghubungkan barang dan penumpang di provinsi tersebut dan memungkinkan peningkatan volume layanan.

Forum Penelitian

Sesi kedua hari itu adalah Research Forum yang menghadirkan PAIR Senior Fellows Professor Nyoman Pujawan dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Professor Andreas Ernst dari Monash University dan Professor Siti Malkhamah dari Universitas Gadjah Mada, dimoderatori oleh AIC Head of Communications, Helen Brown.

Dalam sesi panel ini, para peneliti menekankan pentingnya integrasi dari keseluruhan sistem transportasi.

“Untuk mendapatkan dampak transformasional, kita tidak hanya membutuhkan infrastruktur perkeretaapian, tetapi seluruh ekosistem sistem transportasi di sekitarnya yang membantu menghubungkan masyarakat dan industri di dalam daerah tangkapan kereta api, untuk memungkinkan transportasi yang lebih efisien di seluruh wilayah.” ujar Profesor Andreas.

“Layanan bus penghubung, fasilitas parkir dan tumpangan untuk sepeda motor dan koneksi jalan raya harus menjadi bagian dari perencanaan induk transportasi.”, tambah Profesor Siti.

Profesor Siti juga menyebutkan pentingnya memahami kebutuhan pengguna transportasi, khususnya di masyarakat yang tinggal di sepanjang jalur kereta api.

“Kita perlu memahami apa yang mereka lakukan setiap hari dan kemudian asal dan tujuan perjalanan mereka, serta moda transportasi apa yang mereka gunakan setiap hari,” sebutnya. “Dan kami ingin memahami dimana peralihan ke transportasi kereta api akan bermanfaat bagi mereka.”

Panelis juga membahas potensi tantangan yang mungkin dihadapi jalur kereta api. Salah satunya muncul dari pembangunan jalur tungga kereta api. Rancangan ini dapat membatasi jumlah layanan kargo yang dapat berjalan dan menyebabkan penundaan layanan penumpang, karena kedua layanan akan menggunakan jalur yang sama dan layanan kargo bergerak dengan kecepatan yang lebih lambat. Profesor Nyoman mengatakan bahwa sistem penjadwalan yang efektif dapat membantu meringankan beberapa masalah ini, dan bahwa PAIR akan bekerja untuk mendukung otoritas lokal dalam hal ini.

Penutup

AIC kemudian menyambut Alison Duncan, Minister Counselor Bidang Investasi dan Infrastruktur di Kedutaan Besar Australia di Jakarta untuk memberikan kata penutup. Alison berterima kasih kepada semua yang terlibat atas diskusi yang menarik dan relevan tentang peran infrastruktur yang mendukung pengembangan masyarakat. Ia menekankan pentingnya memastikan kelompok rentan untuk dapat memperoleh keuntungan dari investasi seperti ini, terutama dalam konteks pandemi COVID-19. Alison juga memuji semua pihak yang terlibat dalam upaya penelitian kolaboratif PAIR untuk menghasilkan bukti berbasis penelitian untuk mendorong hasil kebijakan yang lebih baik.

Untuk informasi lebih lanjut tentang Hari 2 PAIR Summit 2020, kunjungi di sini.

Diterjemahkan oleh Dilah Trya.

Picture of Marlene Millott

Manejemen Program PAIR
The Australia-Indonesia Centre