Bincang-bincang: Professor Dwia Aries Tina Pulubuhu menyambut PAIR

Dr Dwia Aries Tina Pulubuhu, Rektor Universitas Hasanuddin, percaya bahwa Kemitraan untuk Penelitian Australia-Indonesia (PAIR) akan mendorong bentuk-bentuk inovasi baru dalam produksi pengetahuan, yang akan membantu universitas yang berpartisipasi untuk menanamkan keterampilan memecahkan masalah dalam berbagai jalur pendidikan mereka.

 

Prof. Dwia adalah seorang sosiolog yang belajar di Unhas, Universitas Airlangga dan Universitas Ateneo de Manila di Filipina. Bidang studinya meliputi isu perempuan yang hidup dalam kemiskinan, dan multikulturalisme, dan dia baru-baru ini melakukan evaluasi kinerja proyek pembangunan daerah untuk Bappenas. Berikut adalah wawancara video terbaru kami dengannya, diikuti dengan salinan transkrip lengkap di bawah ini.

Prof. Dwia: UnHas, atau Universitas Hasanuddin, yang merupakan institusi tersier terbesar di Indonesia Timur, selalu dilibatkan oleh pemerintah dalam merancang program pembangunan. Mulai dari perencanaan awal, hingga pembangunan itu sendiri. Setelah itu kami evaluasi kegunaannya.

Jadi terlibat dalam analisis program pembangunan untuk kepentingan masyarakat dan wilayah, hal ini telah diterapkan. Sehinggadengan adanya program PAIR ini, kami merasa lebih senang karena tujuan PAIR jelas sebagai program penelitian inter- dan multidisiplin.

Pewawancara: Apa itu Kemitraan Riset Australia-Indonesia (PAIR)?

Prof. Dwia: Fokus lokasinya di Sulawesi Selatan. Pembangunan, pembangunan infrastruktur transportasi untuk Sulawesi Selatan, sehingga orang enginering terlibat, orang sosial terlibat, dan aspek-aspek ekonomi juga terlibat yang pada prinsipnya hasil dari riset ini adalah ingin berorientasi kepada apakah kebermanfaatan dari pembangunan selama ini, terkait dengan pembangunan infrastruktur, sarana transportasi utamanya kereta api di Sulawesi Selatan.

Ini mencoba mengevaluasi bagaimana pembangunan infrastruktur itu berefek pada masyarakat, pada orang. Efek secara ekonomi, efek pula secara pola mobilitasnya, dan tentu pula pada pola interaksinya, dan pada akhirnya kebermanfaatan secara keseluruhan bagi pembangunan daerah di Sulawesi Selatan dan support pada pembangunan Indonesia. Saya kira PAIR ini adalah program yang sangat strategik. Kalau bisa diduplikasi untuk program-program di wilayah lainnya.

Pewawancara: Apa hubungan antara penelitian dan kebijakan?

Prof. Dwia: Satu program pembangunan saya kira harus berbasis riset apalagi jika kita ingin pembangunannya berorientasi pada pengetahuan, sehingga dari awal program tersebut didesain sudah tepat sasaran. Kemudian kebermafaatannya pun bisa dievaluasi, seberapa jauh kebermanfaatan pembangunan itu selama ini hingga kita bisa tahu, kalau dengan berbasis riset, mana sebenarnya yang prioritas?

Dari saat program itu berjalan, jika perlu dievaluasi atau ada perlu standarisasi, maka harus ada ukuran. Ukuran harus berbasis riset juga, tidak bisa dikira-kira. Kalau ada ekspektasi masyarakat seperti apa, juga harus berbasis riset. Bukan hanya harapan-harapan atau wacana misalnya.

Sehingga pada akhirnya pun kebermanfaatannya juga mesti diukur. Ukurannya itu yang konkrit, agar bisa konkrit hanya yang bisa lewat riset base, sehingga akhirnya program-program pembangunan ini benar-benar program yang real, seusai dengan kebutuhan masyarakat, kemudian kebermanfaatnnya juga memang sesuai yang dibutuhkan oleh masyarakat dan negara.

Pewawancara: Bagaimana UnHas akan bermanfaat dari PAIR?

Prof. Dwia: Saya kira penelitian-penelitian seperti program PAIR ini akan bisa menjadi bahan untuk memperkaya pengajaran, model materi-materi pengajaran. Selain itu akan juga bisa menjadi ajang untuk dilahirkannya teori-teori perspektif baru yang akhirnya bisa dipublikasi secara internasional, akhirnya mengangkat daya saing perguruan tinggi UNHAS ini sendiri, alumni yang dihasilkan, banyak sekali kebermanfaatannya.

Dari ilmu sendiri, ini akan melahirkan banyak temuan-temuan, inovasi-inovasi kan. Jadi infrastruktur semacam ini akan melahirkan ide-ide baru untuk pengembangan inovasi lainnya. Jadi dari segi keilmuan akan betul-betul memang ruang lingkupnya pendidikan tinggi.

Dari pengembangan ilmu, jadi mempersiapkan SDM kita yang betul-betul membahas sesuatu yang orientasinya pada penyelesaian masalah. Lalu buat para peneliti akan menjadi ajang untuk melahirkan perspektif-perspektif, analisis-analisis baru.