Catatan dari Sulawesi Selatan: peneliti PAIR turun lapangan (dan kereta api)

Selama empat hari di bulan November, 11 Senior Fellows AIC menjelajahi Sulawesi Selatan bersama dengan staf AIC untuk belajar tentang isu-isu yang akan memberikan informasi terhadap proyek penelitian mereka pada tahun mendatang.

Setelah Induction Workshop di Melbourne yang berfokus pada pengembangan kapasitas tim (team building), para peneliti senior untuk Kemitraan Penelitian Indonesia-Australia (PAIR) yang berasal dari 11 universitas di penjuru Indonesia dan Australia tampak antusias untuk segera terjun ke lapangan dan menyusun pertanyaan penelitian mereka.

Senin 18 November

Discovery Workshop dimulai dengan peluncuran PAIR yang disambut oleh Gubernur Sulawesi Selatan, Nurdin Abdullah, sebagai tuan rumah dan dilaksanakan di Baruga Pattingalloang, Rumah Jabatan Gubernur Sulawesi Selatan. Para tamu yang berasal dari sektor industri dan bisnis, pemerintah, akademisi dan komunitas mendengarkan sambutan Gubernur, Direktur Eksekutif AIC Eugene Sebastian dan Duta Besar Australia untuk Indonesia Gary Quinlan yang menyatakan PAIR sebagai batu pijakan bagi masa depan hubungan kedua negara.

Senior Fellows and AIC staff in South Sulawesi. (Credit: AIC.) Top photo: Senior Fellows Siti Malkhamah, Anu Rammohan and Reni Suwarso walk through the cocoa farm in Mangkoso. (Credit: AIC)

Setelah acara peluncuran, para Senior Fellows berpartisipasi dalam diskusi roundtable untuk mendengarkan paparan para peneliti dari Universitas Hasanuddin terkait isu komoditas, transportasi, pemuda, gender dan disabilitas. Ulasan isu komoditas dipaparkan oleh Dr Nita Rukminasari tentang rumput laut dan Prof. Dr. Ade Rosmana tentang kakao. Dr Muhammad Isran Ramli memaparkan tentang isu transportasi; sebuah bahasan penting dalam memahami isu jalur kereta api baru Makassar-Parepare. Dr. Ansariadi membahas topik terkait pemuda, sementara Dr. Mardiana Ethrawati Fachry membahas tentang isu gender dan disabilitas.

Senior Fellows dan staf AIC mendengarkan paparan materi saat diskusi roundtable bersama peneliti Universitas Hasanuddin. (Foto: AIC)

Selasa 19 November

Tim AIC melakukan kunjungan lapangannya yang pertama di kantor manajemen PT. Pelindo IV. Dalam kunjungan ini, para peneliti senior mengamati aktivitas kapal feri penumpang dan kargo di Pelabuhan Makassar Soekarno-Hatta dan mendengarkan presentasi tentang rencana Pelindo untuk pembangunan Pelabuhan Baru Makassar (Makassar New Port) serta integrasinya dengan jalur kereta api baru. Kami kemudian mengunjungi pelabuhan tradisional Paotere dan bertemu dengan nelayan, kru dan pekerja setempat, termasuk mereka yang menggunakan kapal kecil dari Flores untuk mengangkut kacang mete ke Sulawesi.

Terakhir, seluruh anggota tim kemudian mengenakan vis dan hardhats untuk mengunjungi Pelabuhan Baru Makassar (Makassar New Port) yang masih dalam tahapan pembangunan. Meskipun begitu, pelabuhan ini telah berhasil memfasilitasi peningkatan operasi sebesar 18 persen sejak peluncurannya di tahun 2018.

Pekerja dermaga menurunkan kantong-kantong yang berisi 100 kg kacang mete di pelabuhan tradisional, Paotoere, Makassar. (Foto: AIC)
Senior Fellows Sebastian Thomas, Scott Waldron dan Anu Rammohan bersama dengan Koordinator Kapabilitas Tim, Martijn Van Der Kamp di Makassar New Port (pelabuhan baru). (Foto: AIC)

Dari pelabuhan, tim melanjutkan perjalanan melintasi wilayah yang dilalui jalur kereta api dan bertemu dengan perwakilan pemerintah daerah Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep). Para peneliti juga mempelajari tentang komoditas kunci yang terdapat di kabupaten ini, agenda pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia, serta tantangan untuk memastikan bahwa dengan adanya konektivitas terhadap jalur kereta api dapat memberikan manfaat bagi kabupaten yang sebagian besarnya terdiri atas pulau-pulau kecil ini.

Senior Fellows dan staf AIC bersama perwakilan Bupati Pangkep. (Foto: AIC)

Perhentian kami berikutnya adalah kelompok budidaya rumput laut di Desa Pitue yang disambut begitu hangat dari penduduk desa dengan senyuman dan swafoto. Dengan secangkir sarabba (minuman tradisional dari Sulawesi Selatan yang terbuat dari jahe, santan, gula aren, lada, dan terkadang telur) dan camilan lezat, para peneliti mendengarkan sambutan dari Ibu Hasrawati Karim yang terpilih sebagai ketua kelompok tersebut. Sebelumnya, desa ini aktif dalam usaha budidaya perikanan, tetapi karena kurang berhasil, maka beralih ke budidaya rumput laut. Ibu Hasrawati membahas jadwal dan proses budidaya rumput laut, serta pengolahan makanan ringan oleh kelompok untuk dipasarkan.

Senior Fellows dan staf AIC makan bersama pembudidaya rumput laut di Desa Pitue. (Foto: AIC)

Rabu 20 November

Setelah bermalam di Parepare, kami melanjutkan perjalanan ke kelurahan Mangkoso di kabupaten Barru untuk bertemu dengan kelompok petani kakao dan mengunjungi kebun mereka. Pak Isran sebagai petani lokal menjelaskan proses pemanenan dan pengolahan pasca-panen. Sembari menikmati air kelapa segar, para peneliti menyimak paparan kepala desa dan kelompok tani tentang metode budidaya tradisional dan peran laki-laki dan perempuan dalam proses budidaya. Kakao bukanlah satu-satunya komoditas yang dikelola di wilayah ini; ada juga beras, sapi, jagung, buah-buahan dan sayuran lainnya. Berbagai varietas yang diproduksi secara lokal memastikan bahwa desa ini mampu mencukupi pangannya sendiri.

Pertemuan kami berikutnya adalah dengan perwakilan Bupati di Barru yang menguraikan tujuan mereka untuk meningkatkan kesejahteraan, investasi dan infrastruktur. Perwakilan tersebut berharap bahwa jalur kereta api yang baru akan meningkatkan mobilitas masyarakat di kabupaten, kemudian meningkatkan sumber mata pencaharian dan kesejahteraan mereka. Mereka juga menekankan pentingnya hubungan antara universitas dan pemerintah daerah dalam mengembangkan kebijakan berbasis bukti (evidence-based), dan menyambut baik program PAIR.

Staf AIC Hasnawati Saleh, Kevin Evans dan Eugene Sebastian bersama dengan Senior Fellow Sudirman Nasir dan perwakilan pemerintah daerah Kabupaten Barru. (Foto: AIC)

Ada perasaan antusias dari tim peneliti saat tiba di tujuan selanjutnya – kereta api. Setelah mendengar begitu banyak cerita tentang hal ini, kami melakukan perjalanan dengan kereta uji coba dimulai dari Pekkae, Barru, dan membentang di sepanjang bagian kecil jalur yang telah dibangun. Sembari melintasi indahnya bentang alam sawah, ladang, desa, dan pegunungan karst Sulawesi Selatan, tim peneliti mendengarkan paparan ketua tim teknis proyek terkait rencana untuk menghubungkan kereta api dengan moda transportasi lainnya, dampak lingkungan proyek, dan pelajaran yang bisa dipetik dari proyek kereta api di Jawa yang telah diterapkan di Sulawesi.

Senior Fellows Christrijogo Sumartono dan Siti Malkhamah bersama masinis kereta api Makassar-Parepare. (Foto: AIC)

Perhentian terakhir hari itu adalah kunjungan singkat ke komunitas budidaya rumput laut di Kabupaten Barru. Para peneliti dan staf AIC mencicipi makanan ringan yang terbuat dari rumput laut kering buatan lokal yang diproduksi oleh perusahaan skala rumah tangga di desa dan dijual di Tokopedia (situs jual-beli online). Kelompok tersebut mengamati perempuan menyiapkan tali untuk direntangkan ke laut sebagai tempat tumbuhnya rumput laut, serta belajar tentang proses pengolahan pasca-panen.

Senior Fellows Reni Suwarso, Andreas Ernst dan Sebastian Thomas bersama pembudidaya rumput laut di Barru. (Foto: AIC)

Kamis 21 November

Agenda terakhir dari Discovery Workshop adalah bertemu dengan Tim Percepatan Pembangunan Gubernur – sebuah tim yang terdiri dari para akademisi untuk mengimplementasikan prioritas pembangunan provinsi oleh Gubernur – dan badan perencanaan pembangunan daerah atau Bappeda. Diskusi roundtable yang dipimpin oleh Profesor Jamaluddin Jompa difokuskan pada perikanan, transportasi, kakao, pendidikan dan kesehatan.

Sore harinya, para peneliti bertemu kembali untuk membahas semua yang telah mereka pelajari selama satu minggu ini, topik-topik proyek potensial, dan ide-ide mereka untuk tahapan program PAIR berikutnya.

Tantangan kedepannya adalah memahami bagaimana mengelola perbedaan pandangan di antara para pemangku kebijakan, dan apa peran PAIR dalam membantu kelompok tersebut mencapai tujuan mereka.

Misalnya, komunitas petani yang menggunakan pengetahuan lokal dan teknik pertanian tradisional untuk menanam berbagai tanaman dalam mengamankan pasokan pangan desa mereka. Bagaimana cara bertahan hidup ini dapat disandingkan dengan strategi ‘satu desa satu produk baru’ (one village one product) pemerintah daerah, yang berfokus pada optimalisasi produksi tanaman tertentu di setiap desa? Saat peneliti Universitas Hasanuddin Dr. Mardiana mendorong ruang publik yang lebih inklusif bagi perempuan dan penyandang disabilitas, bagaimana hal ini dapat dimasukkan ke dalam skema pengembangan stasiun kereta baru.

Tetap ikuti perkembangan PAIR yang masih akan terus berlanjut disini.

PAIR Program Officer