Membuka potensi industri rumput laut Sulawesi Selatan

Lihat Siaran Pers ini sebagai PDF

Industri rumput laut di Sulawesi Selatan sangat besar, tetapi potensinya jauh lebih besar lagi.

 

Tim peneliti interdisiplin dari Indonesia dan Australia berupaya membantu Sulawesi Selatan membuka potensi ini untuk mendorong pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di sana.

Meskipun Indonesia menjadi produsen rumput laut karaginan terbesar di dunia, dan Sulawesi Selatan berkontribusi besar dalam hal ini, industri ini terasa masih kurang dimanfaatkan dan dikembangkan.

Dalam proyek penelitian terbaru di bawah Kemitraan Penelitian Australia-Indonesia (Partnership for Australia-Indonesia Research/PAIR), para peneliti akan berusaha mempelajari kondisi industri rumput laut saat ini di Sulawesi Selatan sebagai bahan informasi proyek penelitian yang akan berfokus pada upaya peningkatan industri tersebut.

Semua penelitian akan dilakukan dari jarak jauh, tanpa perlu perjalanan lapangan.

Latar Belakang

Pertanian memainkan peran sentral dalam perekonomian Sulawesi Selatan, dan rumput laut merupakan komponen utama dalam mendukung mata pencaharian hingga 40.000 petani skala kecil dan sejumlah besar pedagang dan eksportir. Indonesia dan Sulawesi Selatan memiliki keunggulan kompetitif secara internasional dalam produksi rumput laut yang banyak digunakan dalam industri makanan, kosmetik dan farmasi.

Para pemangku kepentingan di industri rumput laut percaya ada peluang untuk memberikan nilai tambah dan meningkatkan produksi saat ini. Misalnya, sekitar 90 persen rumput laut Indonesia diekspor sebagai bahan baku, sedangkan pemrosesan rumput laut sebelum diekspor dapat meningkatkan nilai dari komoditas ini.

Sementara itu, modernisasi dalam metode budidaya, penggunaan teknologi dalam proses panen dan penguatan kelembagaan dapat meningkatkan mata pencaharian petani. Perbaikan teknologi dan kebijakan juga dapat mengurangi dampak lingkungan dari industri.

Dalam proyek ini, para peneliti akan berusaha memahami kondisi industri rumput laut saat ini di Sulawesi Selatan dengan melakukan analisis pada:

  • Penggerak dan tren dalam industri rumput laut, secara nasional dan provinsi
  • Rantai nilai industri rumput laut di Sulawesi Selatan
  • Mata pencaharian masyarakat budidaya rumput laut di Sulawesi Selatan.

Tim peneliti

PAIR domain: Komoditas

Senior Fellows: Prof. Nunung Nuryartono (IPB), Dr Scott Waldron (UQ)

Associate Fellows: Dr Muhammad Farid Dimjati Lusno (UNAIR), Dr Sulfahri (UNHAS), Dr Alexandra Langford (UQ)

Ini adalah Proyek Penelitian Percontohan ketiga PAIR. Sebelumnya, kami telah merilis proyek penelitian dari domain:  ‘Pemuda dan Pembangunan’ and ‘Pemuda, Kesehatan, dan Kesejahteraan’.

 

Narahubung media Australia

Marlene Millott
PAIR Program Officer
+61 427 516 851
marlene.millott@australiaindonesiacentre.org

Narahubung media Indonesia

Fadhilah Trya Wulandari
Petugas Program PAIR
+62 8124 3637 755
dilah.trya@australiaindonesiacentre.org

 

Tentang PAIR

PAIR adalah program unggulan untuk model penelitian terbaru AIC, yang didukung oleh Pemerintah Australia, Pemerintah Indonesia, Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan dan sebelas universitas mitra AIC di Australia dan Indonesia.

Berfokus pada Sulawesi Selatan, PAIR menjelajahi wilayah pantai barat provinsi, tempat jalur kereta baru sepanjang 145 kilometer dibangun, menghubungkan dua kota besar dan tiga kabupaten: Makassar, Maros, Pangkajene, Barru dan Parepare. PAIR akan mengeksplorasi empat bidang utama: rumput laut sebagai komoditas utama; transportasi, logistik dan rantai pasok; kesehatan dan kesejahteraan pemuda; serta keterampilan dan pembangunan pemuda.

Kunjungi situs PAIR untuk informasi lebih lanjut.

 

Tentang Australia-Indonesia Centre

Melalui webinar: In Conversation, Australia-Indonesia Centre telah membedah dampak COVID-19 dari berbagai perspektif, termasuk kesehatan masyarakat, ekonomi, pemerintahan, perdagangan internasional dan pendidikan dalam skala global. Penelitian PAIR akan menambah upaya ini karena kami terus mencari cara untuk bekerja bersama menuju pemulihan dan pembangunan berkelanjutan.

The Australia-Indonesia Centre adalah konsorsium yang terdiri dari 11 universitas terkemuka berbasis penelitian yang terletak di kedua negara. Misinya adalah untuk mengembangkan hubungan orang-ke-orang (people-to-people) dalam sains, teknologi, pendidikan, inovasi dan budaya.

 

Kunjungi  situs AIC untuk informasi lebih lanjut.

Photo oleh Agung Pananrang di Bone, Sulawesi Selatan.